Letter from Dad

Dear my precious daughter,

Today, 26 years ago
Your birth opened my heart to a lifetime of love and devotion.

I have watched you crawl and walk and fall in love and rebel. I’ve watched you get hurt and suffer–and then heal. With delight and awe I have watched your bodies, your minds, and your souls develop.

Now I watch you, growing up with grace and compassion, devoting yourselves to making the world more just for those who need justice.

We have brought each other live and blessings. In the past, your lives were in my hands and that brought me joy. In the future, my life will be in your hands and that brings me peace.

Happy birthday my dearest sunshine. You’re my pride.

Dad

————————

My father wrote this letter 2 days ago, on my birthday. Maybe..this is only a short letter (yeaaa..for sure) but.. speak much to me, moving me and this letter suddenly becoming my super-mood-booster too since the first time I read it.

I don’t know how to express my emotion  every time I read this letter.

I just know that.. I love my father as my stars — he’s a bright shining example for my life and a happy twinkling in my heart, forever :)


Jail Veil

the different types of veil

Kiri atas: jilbab (hijab), kanan atas: niqab, kiri bawah: Chador, kanan bawah: burqa

Ide awal postingan ini berawal dari percakapan saya dengan seorang teman di Jakarta via Skype, beberapa saat setelah saya pulang dari kampus tadi.

Teman: Eh, elu tau nggak, soal Prancis ngelarang orang pake jilbab?

Saya: Tau. Kenapa? Btw, setau gue, bukan jilbab. Burqa sama niqab yang dilarang.

Teman: Ah, kaga. Gue liat di tv, jilbab bilangnya. Rese banget tuh Sarkozy.

Saya: Stasiun TV mana? Rese?

Teman: Stasiun…. (menyebut salah satu stasiun TV lokal Indonesia). Rese, takut Islam jadi mayoritas.

Saya: *hela nafas* (takut berbicara lebih “sempit” dan bodoh) elo ada tv kabel kan? tonton channel berita yang lain deh. Biar dunia lo kebuka sedikit. yang dilarang itu yang pakai burqa sama niqab. Yang pakai jilbab biasa, kaya kakak lo, masih boleh

….I’m shocked. Teman saya seorang sarjana dari sebuah universitas yang cukup “valid” di Jakarta (catat: bukan sarjana abal – abal), ternyata begitu mudah terprovokasi dengan berita “sampah” yang sudah diberi banyak bumbu sehingga esensi beritanya malah tidak muncul. Sungguh, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana dengan jutaan orang Indonesia lainnya yang tingkat pendidikan atau kemampuan kognitifnya di bawah teman saya itu, yang apesnya, juga melihat berita yang sama? I can’t imagine that -____-! *lapkringet* Mengingat agama adalah isu paling sensitif di Indonesia. Sumpeee dahh… saya langsung merasa “panas”, karena cukup banyak teman – teman saya yang salah paham tentang berita sensitif ini. Saat itu juga, saya langsung mengajak seorang teman yang sedang belajar di Paris dan di Yaman untuk berdiskusi, dan untungnya… mereka masih available di dunia maya :D

Antara Perancis, Burqa dan Niqab

Burqa dan niqab membungkus seluruh tubuh wanita, sehingga yang terlihat hanya tinggal telapak tangannya saja. Yang pasti, akan sulit bagi kita semua untuk mengenali wajah orang yang memakai burqa ataupun niqab.

Menurut teman diskusi saya yang belajar di pesantren sedari kecil, dan saat ini sedang belajar di Yaman, Burqa dan niqab bukanlah bagian dari tradisi Islam, tapi tradisi dari daerah di sekitar semenanjung Arab. Burqa awal mulanya dipakai oleh para wanita di daerah Arab untuk menghindari undesirable things yang mungkin mereka jumpai ketika mereka berada di luar rumah, dan niqab digunakan untuk melindungi diri dari debu dan pasir, di daerah gurun di sekitar Arab.

Pelarangan penggunaan burqa dan niqab di Perancis, memang menimbulkan pro dan kontra. Di Indonesia sendiri, sepertinya lebih banyak pihak yang kontra, karena pemberitaan yang kurang obyektif, seolah – olah tidak hanya burqa dan niqab yang dilarang, tetapi jilbab juga ikut dilarang, seperti pembicaraan antara teman saya dan saya di skype tadi. Padahal, orang yang memakai jilbab biasa (hijab) masih diperbolehkan, karena wajah mereka masih terlihat dan masih bisa dikenali.

Pelarangan burqa dan niqab muncul karena (katanya) adanya stigma masyarakat Perancis yang kurang baik terhadap orang – orang yang menggunakan burqa dan niqab pasca peristiwa 11 September 2001, Bom Bali (termasuk mempengaruhi), pemboman bis double decker di London dan rangkaian peristiwa teror lainnya. Stigma – stigma masyarakat itulah yang kemudian dibawa ke ranah politik oleh Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy.

Pemakaian burqa dan niqab dilarang di seluruh tempat – tempat umum, seperti taman – taman kota, bioskop, restoran, pertokoan, dan sarana transportasi umum, dengan tujuan agar petugas – petugas sarana umum, aparat keamanan, dan kamera CCTV yang dipasang di tempat – tempat umum bisa mengenali dengan baik, siapa saja yang berada di situ. Peraturan ini juga berlaku bagi siapapun pemakai burqa dan niqab yang masuk ke wilayah Perancis. Bagi yang melanggar akan dikenai denda 150 euro.

Aparat yang menangkap orang yang memakai burqa dan niqab sendiri tidak diperbolehkan untuk memaksa para pemakai untuk membuka cadar dan kerudungnya. Orang tersebut harus secara sukarela membuka cadar dan kerudungnya. Atau jika yang bersangkutan tidak mau, aparat tersebut harus menunggu ijin dari instansi pamong praja (kepolisian) yang memperbolehkan dia untuk membuka cadar dan kerudung orang yang ditangkap. Setidaknya, menurut hemat saya… ini jauh lebih manusiawi daripada peraturan di suatu daerah di Indonesia, yang main tangkap para ibu – ibu yang keluar di malam hari karena dianggap PSK, padahal ibu tersebut pergi dengan suaminya (kenapa ini ga ada yang protes sih dulu? #eh)

Pelarangan pemakaian burqa dan niqab di tempat umum ini, sebenarnya lebih berkaitan dengan rasa aman dan nyaman bagi warga lain yang berada di tempat umum, yang mungkin merasa sering was – was setelah rangkaian peristiwa teror. Tapi ini juga melanggar freedom of expression, kebebasan berekspresi bagi mereka yang mungkin, menggunakan burqa atau niqab sebagai bentuk rasa hormat kepada budaya asalnya, rasa hormat kepada komunitasnya, dan memakai burqa atau niqab bukan sebagai bentuk sikap “loyal” kepada agama.

Presiden Sarkozy memang cukup jeli dalam membaca keresahan mayoritas warganya, apalagi tahun depan, 2012, dia (rencananya) akan mencalonkan dirinya sebagai presiden untuk yang kedua kalinya, maka, jadilah hal ini diangkat masuk ke dalam ranah politik, dan inilah poin utamanya: bahwa masalah “jail veil” ini adalah masalah politik, sebagai ajang mencari simpati masyarakat (dengan memberikan jaminan rasa aman) serta untuk pencitraan seorang Nicholas Sarkozy menjelang pemilihan Presiden 2012, dan bukan masalah agama seperti yang ramai dibicarakan di Indonesia.

_________________________________________________

*ditulis setelah melalui diskusi panjang dengan dua orang teman. seorang sedang mengambil master Ilmu Politik dan Pemerintahan di Sorbonne University, Perancis, dan seorang lagi sedang mengambil master Kajian Ilmu Islam di Yemenia University, Yaman

*sumber gambar: http://www.france24.com/en/20100126-guide-different-types-veil


About My 2nd Fam (::)

London School of Economics,
Houghton Street, London
22 Maret 2011

Bapak itu, berusia 73 tahun, dan ibu itu 62 tahun. Saling berpelukan, ketika putra bungsu mereka dinyatakan lulus sebagai seorang Ph. D. Campur aduk rasanya ketika melihat mereka…

Mungkin karena ini…
Bapak itu, bapak yang dengan gigih meyakinkanku bahwa aku mampu untuk menyelesaikan pendidikanku di Singapura. Dia profesor yang dengan sabar membimbingku ketika aku mengerjakan tesisku. Meneliti dengan hati-hati isi dibalik susunan kata. Lalu mendengarkan dengan pelan – pelan jawabanku yang berantakan, agar bisa memahami betul arti dari jawabanku. Bapak yang hanya melemparkan kertas ke wajahku tapi tidak mengusirku pergi dari ruangannya ketika aku sungguh – sungguh keterlaluan dalam mengerjakan revisi tesis. Bapak yang selalu meyakinkanku bahwa aku harus menjadi seorang idealis, berani mengejar mimpi, dan membela yang benar. Bapak yang mengajarkan tentang arti sebuah kerja keras, integritas, ke-rendah-hati-an, dan kesederhanaan. Bapak yang tetap menyapaku dengan senyum ramahnya ketika aku di sore hari bermain dengan anak bungsu dan cucunya, meskipun dipagi hari saat konsultasi tesis, aku telah membuatnya marah karena kemalasanku untuk berpikir lebih dalam. Bapak yang selalu mengatakan bahwa aku harus selalu care pada segala hal yang aku lalukan, agar waktu yang telah kugunakan tidak menjadi sia – sia. Bapak yang punya peran sangat besar dalam proses hidupku di Singapura, sehingga akhirnya aku bisa lulus dengan GPA sempurna 4. 00, masuk jajaran mahasiswa Top 5 di kampus yang bergengsi di Singapura, dan menjadi orang Indonesia pertama di jurusanku yang meraih hal itu. He is my inspiration.

Istrinya…
Ibu yang selalu menanyakan, “Apa kabarmu ndhuk? Sudah rosario hari ini?” Ibu yang tahu apa kesukaanku. Ibu yang selalu tahu ketika emosiku sedang tidak baik, dan kemudian memelukku dengan erat. Ibu yang selalu memberiku keyakinan bahwa perempuan tidak boleh lahir dengan sia – sia, bahwa perempuan mempunyai hak yang sama dengan laki – laki dalam berkarya. Ibu yang menangis bersamaku ketika aku berputus asa dengan tesisku. “Keep fight. You have to fight with yourself. Buatlah ibumu bangga, bahwa dia telah melahirkan pejuang. Sing sareh. Sing kuat. Sabar”, itu yang selalu dikatakannya ketika aku sudah mulai berputus asa. Ibu yang memberiku kepercayaan untuk membawa cucu tunggalnya bermain denganku dalam waktu yang tak bisa dibilang sebentar. Pelukannya, senyumnya sungguh menguatkanku. Ah, dia sudah seperti ibuku sendiri..

Dan anak bungsunya…
Dia yang menyelesaikan pendidikan doktoralnya hari ini, di usianya yang ke duapuluhsembilan.
Orang yang mendamaikan aku dengan sepupu laki – lakinya yang dulu sangat dekat denganku, hingga sekarang kami menjadi dekat kembali. Seorang cerdas yang mengajakku untuk selalu bermimpi besar. Orang yang setia menemaniku di masa awalku di Singapura, masa – masa berat ketika air mata sering tumpah karena tuntutan berprestasi yang cukup berat dari tempat kerjaku yang memberiku kesempatan untuk belajar dan lingkungan sosial Singapura yang dingin. Orang yang selalu menyemangatiku ketika aku harus berjibaku dengan urusan kantor, tugas ke negara lain, dan tugas kuliah meskipun dia juga sedang merasa lelah dengan pekerjaan dan penelitian Ph. D – nya. Orang yang membantuku dengan mencarikan referensi untuk tugas kuliahku (termasuk dengan mengambil buku bapaknya :D ) dan menemaniku belajar di perpustakaan hingga larut. Orang yang membantu dan selalu mendorongku untuk aktif belajar tentang ilmu persuasi. Orang yang selalu meyakinkan bahwa segala kepahitan di Jurong pasti akan berakhir dengan manis, bahwa kepahitan ini adalah kesempatan langka yang tak setiap orang merasakannya. Orang yang selalu memberiku “bocoran” tentang aktifitas bapaknya agar aku bisa curi – curi waktu untuk berkonsultasi tesis lebih sering. Orang yang memandangku tidak hanya dari pencapaianku sebagai seorang pekerja lembaga dunia yang menjanjikan saja, tetapi juga sebagai seorang perempuan, 25 tahun yang punya idealisme dan mimpi. Orang yang selalu tertawa, ketika aku bercelana pendek, kaos oblong, bersandal jepit, dan tidak pernah mengkritik penampilanku ketika aku sedang ingin bebas. Orang yang sangat menghargai setiap detik waktu bebasku. Orang yang marah dan selalu menegurku dengan keras ketika aku tidak serius dengan hidupku. Dia seorang kakak, bagiku yang memang tak punya kakak. He is my big brother.

Inilah yang terjadi saat ini. Melihat mereka yang menganggapku sudah seperti bagian dari keluarga mereka dan mencintaiku tanpa syarat dengan segala kehangatan dan kebaikan, saling berpelukan, menangis dalam haru, dan tertawa bahagia.

Aku mencintai mereka, dan seumur hidup, aku berhutang pada mereka.


Inception and Inferiority Complex

Film yang termasuk terakhir yang saya lihat adalah film yang dibintangi Leonardo Dicaprio. FIlmnya cukup menarik, sayang saya terlambat cukup lama. Hehehe… sehingga mungkin saya ketinggalan cukup banyak. Beruntung sebelah kanan saya cukup anteng ketika menonton walau sebelah kiri saya sering mengeluh, “ah, filmnya ga menarik. Biasa saja. Mending nonton Eclipse. Ngayal banget. Ecek-eceklah.” Sebelah kiri saya mungkin hanya salah satunya saja, karena banyak orang yang saya temui, mengira kalau Inception itu khayalan total. Padahal, kuat sekali dasar ilmiahnya. Para penjelajah alam bawah sadar yang belajar psikologi, yang bisa melakukan hipnotis, hipnosis dan sejenisnya pasti mengerti dan paham.

Inception makes perfect sense.

Yang menggeluti psikoanalisis, yang menggandrungi surrealisme, yang kenal dengan psychedelia, mestinya akan fasih mengikuti film ini :)

Sering dikatakan manusia itu lahir ke bumi seperti kertas yang putih. Benar sekali. Kertas putih inilah alam bawah sadar manusia itu sendiri.

Apapun yang terrekam di kertas ini adalah residu dari pengalaman orang tersebut, proses yang dimulai bahkan sejak dalam kandungan. Mungkin kalau seperti deskripsi di Inception dengan peralatan canggih dan terkoneksi mungkin tidak ya… tapi ‘terkoneksi’ melalui penggunaan mind-altering substance secara kolektif, hal itu sungguh-sungguh terjadi.

Tokoh seperti Yusuf, si peracik designer drugs itu, banyak ditemukan di kampus-kampus ternama di luar negeri. Di kampus tempat saya belajar sekarang ini pun juga ada.
Saya kurang tahu pasti bagaimana kondisi di Indonesia, tapi sepertinya anak-anak ilmu pasti di sini lebih senang memendam psyche mereka di rumah-rumah ibadah, atau mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan seperti yang diceritakan banyak teman saya dan adik saya sendiri.

Yang jelas alam sadar kita drivernya adalah alam bawah sadar, dan alam bawah sadar kita tadi terbentuk dari rekaman pengalaman sepanjang hidup.

Banyak masalah psikis yang dialami seseorang ketika dewasa dapat dilacak ke trauma-trauma, besar dan kecil, yang dialami sebelumnya.

Contoh: Inferiority complex. Anda pasti kenal seseorang di sekitar anda yang ngotot dalam berprestasi, alias ngoyo. Overachiever istilahnya. Atau seseorang di sekitar kita yang kualitasnya biasa-biasa saja terkesan jumawa, sok, mudah iri dan ingin terlihat bahwa dia tidak kalah dengan orang yang di sekitarnya.

Kemungkinan orang ini pada masa kecilnya sering mendapat tekanan negatif dari lingkungannya, teman, guru atau bahkan keluarganya sendiri.

Disepelekan, dilecehkan, dihina, dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang lain, teman sekelasnya: “Ayo dong kamu kayak si anu yang hebat” atau versi lainnya “Kamu masuk sini saja, biar sukses seperti kakakmu atau si anu anaknya tetangga sebelah.”

Anak ini tumbuh minder, tapi memendam amarah. Mungkin dia diam saja. Tidak ada kata. Tidak ada komentar. Tetap ada tawa. Tapi hasilnya ketika dewasa, orang ini akan berusaha sekuat tenaga membuktikan dirinya.

Seorang pengidap inferiority complex ada yang berprestasi berprestasi (tapi ada juga yang tidak), namun yang jelas, sangat mudah bagi mereka untuk menyepelekan orang lain yang dianggap tidak ‘sehebat’ dia. Mungkin bagi yang tidak berprestasi, dia akan tetap menganggap bahwa dirinya itu hebat (meskipun tidak hebat) dan dia akan sangat mudah menyepelekan orang yang dianggap dibawahnya.

Bagi dia manusia terbagi dalam dua kategori: si pemenang dan si kalah.. Winner — loser. Kalau Anda–dirasa bahwa Anda bukan siapa-siapa-nya, jangan harap dipandang dengan mata utuh karena dipandang sebelah mata olehnya itu merupakan sebuah kepastian. Ini tidak akan langsung terjadi tentunya. Mengendap. Endapan ini sedikit demi sedikit tentunya akan menjadi banyak. Bisa muncul saat remaja, beranjak dewasa, ketika sudah tua, atau ketika sudah menjadi kakek nenek sekalipun :)

Kenapa begitu? Karena secara bawah sadar ia akan teringat dirinya sendiri, trauma disepelekan pada masa kecilnya.

Pada dasarnya ia tidak bisa menerima dirinya apa adanya, bahkan membenci dirinya sendiri.

Self-image yg rusak ini dia tutupi dgn berbagai tabir: perbaikan tampilan fisik, sok super-prestasi, pilih-pilih teman hanya yang hebat, yang dianggap gaul, cantik, modis… atau dengan kata lain not to get the real him/her (self-image kosmetik)

Ya… kalau boleh meminjam istilah yang sedang cukup terkenal di Indonesia– intinya politik pencitraan deh :D  Segala sesuatu tentang dirinya adalah kosmetik. Di dalamnya kropos, kopong, hampa.

Semua itu karena dia menolak untuk konfrontasi ‘demon’ yang ngendon sangat dalam di alam bawah sadarnya. Ya kurang lebih begitulah. Over-pede, tapi sebetulanya sama sekali nggak pede :) lebih menjurus kearah sok-sokan :)

Identitas diri yang tulen nggak penting. Yang penting adalah citra yang ditampilkan kepada dunia. Ja’im abis lah. Yang penting orang melihatnya sebagai sosok yang hebat. Keinginan untuk dianggap sangat besar

Inferiority complex ini juga bisa diidap secara kolektif. Misalnya oleh suatu bangsa yang gamang akan identitasnya, yang merasa terhina.

Bangsa yang menolak untuk menghadapi langsung hantu-hantu masa lalunya. Bangsa yang hidup dalam denial. Bangsa yang hidup dalam penyangkalan atas dirinya sendiri.

Hasilnya? Bangsa yang ngoyo, doyan memaksakan kehendak, ngotot ingin ‘dianggep’. Doyan menjiplak budaya orang, tapi awam sama budaya sendiri. Budaya sendiri malah ditinggalkan. Bangsa yang ga pede dengan dirinya sendiri.

Tapi ga perlu kan, disebut contoh bangsa-bangsa dimaksud? Hahahaha.. setidaknya jika kita ada kaca, mari kita berkaca :)

Kalau di jaman dahulu, sebelum saya lahir, ya misalnya, Jerman di masa Hitler. Hitler pada masa itu terpilih secara demokratis oleh rakyatnya dengan menunggang platform inferiority complex kolektif ini. Prancis pada masa Napoleon, Rusia di bawah Putin… Kondisi sebuah bangsa mencerminkan inferiority complex pemimpinnya. Dan biasanya pemimpinnya cukup populer di dalam negeri. Makanya dia dipilih :) Karena pemimpin yang populis umumnya cenderung mengeksploitasi inferiority complex rakyatnya.

Bagaimana dengan Venezuela di bawah Hugo Chavez, Iran di bawah Ahmadinejad, Libya di bawah Ghaddafi?

dan… ehem..ehem… bagaimana dengan negara kita tercinta, Indonesia? Any comment?

Yang jelas, identitas dan psyche suatu bangsa kan terbentuk dari pengalaman kolektif. :D Setidaknya mari kita tambahkan sedikit propaganda sejarah yang dijejali selama bertahun-tahun dan di-dengung-ulangk-an ad infinitum, and voila!

Bukan cuma bangsa, atau perorangan saja, umat beragama pun–juga rentan menjadi pengidap collective inferiority complex.

Kenapa ada kaum agama tertentu menyandang collective inferiority complex? Karena sepanjang hidupnya yang ia tahu dan (juga) mengalami agamanya dihina, dijelek – jelekan (taruhlah penganutnya termasuk orang-orang dengan sensitifitas tinggi)

Kenapa begitu mudah tersulut ketika agamanya dihina dan dijelek-jelekkan? Karena identitas kelompok itu dianggap identitas pribadi dia.

Dia sebagai diri tidak eksis. Yang ada hanya selapis identitas di permukaan, yang membuat dia merasa jadi penting dan dianggap.

Istilah lainnya: lemah iman :)

Maka ketika selapis identitas ini dicabik-cabik, runtuhlah dia sebagai manusia.

Kalau kita meneliti satu-satu komponen yang membentuk suatu kelompok berdasarkan kesamaan identitas kolektif, maka kita bisa melihat kalau komponennya itu manusia kan? Kenapa mereka berkelompok? Karena mereka merasa sama. Maka terbentuklah identitas kolektif. Kalau masing-masing individu pembentuk kelompok ini menyandang inferiority complex, complex ini akan teramplifikasi dlm kelompok.

All of us have collective inferiority complex!
Jangan sekali-sekali kita memeliharanya :p karena justru akan mengacaukan diri kita sendiri.
Hadapi dan bunuh hantu-hantu di diri kita… Let them go.
Mari berproses menjadi diri sendiri :) memang sulit buat kita sendiri, tapi ini investasi paling aman untuk diri kita dalam jangka waktu sepanjang rentang kehidupan kita kan?

————————————–

P. S: Kebanyakan masalah psikis memang akibat residu masa lalu yang terrekam di bawah sadar: paranoia, schizophrenia, phobia, pedophilia


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.